Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

B'DAY

Tak berasa waktu begitu cepat berputar..tiba-tiba usia bertambah saja, semakin tua ! - sedang jatah hidup berbanding terbalik malah semakin berkurang.

Saya pun cemas menyadari kira-kira berapa banyak waktu berlalu tanpa makna, dilalui sebagai sebuah rutinitas tanpa ada evaluasi dan perbaikan.Kutata hati dan langkah agar tak ada penyesalan.

Ya Robb, ampunilah hamba yg sering Alpa
Tak banyak bekal yang telah dibuat, maka kuberharap belaian rahmat dan kasih sayang Mu selalu dalam setiap langkah,denyut nadi dan desah nafas ku, agar selalu mengingatMu dan istiqomah dalam kebajikan yang telah Kau tunjukkan jelas dan tuntun dalam Ayat2 Kauliyyah, Kauniyyah dan Sunah Rosul.

Jadikan hamba sebagai bagian Ibadurrahman yang pandai bersyukur dan bersabar atas segala kejadian dalam kehidupannya senantiasa dapat memperbaiki diri dari waktu ke waktu , sehingga dapat memetik hikmah hingga menjadi orang yang tertaqwa.

Pun yang sangat mendambakan menjadi bagian org yang berjiwa muthmainnah sehingga Engkau panggil2 dan sambut dengan kalimat syahdu dan lembut :


" yaa ayyatuhaa alnnafsu almuthma-innatu "
"
irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyatan "
" faudkhulii fii 'ibaadii "
" waudkhulii jannatii "



"Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surgaKu" (QS Al-Fajr :27-30)

Amin...Yaa Robbal'Alamin....

Selasa, 15 Februari 2011

EVALUASI AKHLAK MULIA

Libur begini (kalender merah : Maulid Nabi SAW), ada satu tulisan yang bisa buat jadi renungan kita semua.

Sekedar untuk Evaluasi akhlak dalam diri seorang muslimah , ada 4 tingkatan evaluasi akhlak Mulia , sebagai gambaran umumnya :

1. Sholihat.
Artinya jiwa yang lurus, bersih, tenang. Akhlak ini penting karena sebagai syarat agar kita mendapatkan rahmat dan barokah Allah SWT. Dan apabila sudah mendapat rahmat dan barokah Allah SWT, tidak ada lagi yang diharapkan selain itu.

Ya misal dengan nominal harta/uang yang sama, plus rahmat dan barokah Allah SWT, maka apapun yang kita miliki bermanfaat yang diperoleh akan lebih banyak. Sedangkan kalau tanpa barokah Allah, sangat mudah bagi-Nya untuk mengambil kembali harta yang pernah mampir di kantong kita dalam sekejap. misalnya diberi ujian Sakit, Kecurian, Kehilangan, atau musibah karena kelalaian lainnya nya.

Akhlak sholihat dibangun karena ada kedekatan kita dengan Al Qur'an, sunnah, dan bergaul dengan orang-orang yang baik/solih.

2. Qonitat.
Artinya orang yang taat. Karena hati yang selamat, yang sudah lurus, tidak akan kokoh kalau tidak melakukan ketaatan2. Dan ketaatan ini, diuji dengan perintah-perintah untuk melakukan sesuatu.

Tanda2 kita punya jiwa qonaah adalah selalu menerima apa yang terjadi yang ditakdirkan Allah SWT, karena apa yang kita inginkan, tidak selalu diberikan kontan diberikan ada jalan dan ujian yang harus ditempuh sebelum harapan dan do'a kita terwujud . Karena Allah SWT mungkin ingin membersihkan hati kita dulu , membersihkan kekurangan2 kita, supaya kita bisa lebih dekat dengan-Nya.

Lantas apa yang harus kita lakukan ? Pertama mengerti perintah yang Allah SWT berikan, dan melakukannya intinya Sami'na Wa Atho'na . Problemnya kadang2 kita tak mengerti hikmah yang harus kita ambil maunya instant saja. Gak ngerti kenapa dan harus bagaimana. Karena itu, akhlak solihat menjadi syarat supaya hikmah lebih mudah kita tangkap, dan kita lebih mudah mengerti apa yang Allah SWT perintahkan untuk kita lakukan, sehinga kita juga lebih mudah untuk melakukannya.

3. Hafidzhot.
Artinya memelihara. artinya tugas kita adalah memelihara agama, jiwa, akal, kehormatan, dll. Dan bukan menyelesaikan. Apabila kita mendapat ujian, tugas kita 'hanya' memelihara supaya kita tetap di track yang benar. Dan bukan menentukan hasilnya ,sekalipun ada sebab hasil dikarenakan ikhtiar dan usaha kita . Karena selesainya suatu ujian itu wewenang Allah SWT, kapan Dia berkenan mencabut ujian, dan kapan tetap membiarkannya.

Misalnya apabila gagal ujian CPNS, tugas kita adalah memelihara agama, jiwa, akal, dan kehormatan agar tetap sesuai dengan tuntunan-Nya. Sedangkan penyelesaiannya, apakah segera mendapat pekerjaan lain, atau mendapat beasiswa untuk sekolah lagi, atau bahkan tetap menjadi pencari kerja, itu diluar wewenang kita.

4. Azimah.
Artinya wanita yang kokoh dalam setiap langkahnya. Profesional. Dalam pandangan Islam, profesional itu berarti seimbang, kokoh dalam setiap langkah, semua langkahnya. Bukan hanya di salah 1 bidang. Jadi bukan profesional namanya apabila sukses karier pekerjaan di luar domestik , tetapi keluarga kurang terurus, misalnya. Tapi itu di setiap langkah yang dilakukan.
Jadi setiap sebelum melangkah, selalu dipertimbangkan efek/akibatnya dari seluruh aspek . Itulah profesional dalam Islam : seimbang di semua sisi.

Misalnya, sebagai ibu, ada saat2 tertentu anak2 'rewel' dan minta dimandikan, atau diurus kita sebagai orang tuanya di pagi hari. Sementara apabila dituruti, sudah pasti akan terlambat berangkat kerja(bila ibunya juga bekerja) . Atau kebalikannya, ada saat2 tertentu pekerjaan kantor menuntut waktu yang lebih, sehingga tidak bisa pulang menemui anak2 pada waktunya. Benturan-benturan ini akan ditemui setiap hari dan setiap saat , ada tarik ulur antara perasaan dan tanggungjawab sebagai bagian dari Publik . Wanita yang sudah berakhlak azimah, profesional, yang kokoh dalam setiap langkahnya, akan dapat memilih mana yang lebih banyak manfaat dan mengurangi mudhorotnya.

Mudah2an kita semua mampu melalui dan mendapatkan akhlak mulia sehingga menghantarkan pada amalan yang mulia pula, InsyaAllah....


(Sumber terinspirasi tulisan seorang Sobat (Tutut) yang saya salin lagi di blog ini, menarik dan patut jadi renungan. Syukron ya Saudariku atas izinnya)

Selasa, 01 Februari 2011

SEDEKAH


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ --- البقرة: 261

" Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran)" (AlBaqoroh : 261)

Sedekah dikatakan sebagai penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Sedekah adalah penyubur pahala, penolak bala, dan pelipat ganda rezeki, sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,
Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan
kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.

Kemudian mereka bertanya, 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'.
Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'.
Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'.
'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?' tanya para malaikat.
Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'.
Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'.
Allah yang Mahagagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya'."

Kisah Penundaan Maut karena Sedekah

SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”

“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.

Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.

Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”

Kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…sedekah.

Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling kita Bila kita menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar. maka sesungguhnya kitalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah untuk memperpanjang umur kita. Tinggal apakah kita bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur kita.

Sobat, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya tiba. Dan, tidak seseorangpun yang tahu dalam kondisi apa . Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tak ada keinginannya yang tak dikabulkan, tak ada dosanya yang tak diampunkan, dan tak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah-mudahan Allah SWT berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan menambah amal sholih pemberat timbangan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah prilaku kita yang tidak baik , sambil mempersiapkan dan menambah bekal saat nya tiba .

“Harta itu sungguh tidak berkurang dengan sedekah “(HR. Muslim dan Tirmidzi)

saya pun, mengingat lagi lirik lagu ini :

Sedekah
(Opick)

Alangkah indah
orang bersedekah
dekat dengan Allah
dekat dengan surga

takkan berkurang
harta yang bersedekah
akan bertambah
akan bertambah

Allah Maha Kaya
yang Maha Pemurah
yang akan mengganti
dan membalasnya
Allah Maha Kuasa
yang Maha Perkasa
semoga kan membalas surga

oh indahnya
saling berbagi
saling memberi
karna Allah

oh indahnya
saling menjaga
saling mengasihi
karna Allah
Allah.. Allah.. Allah.. Allah.. Allahu ya Rahman

Do'a (contoh Rasulullah SAW)

Ada satu do’a yang diajarkan nabi, yang selalu beliau wiridkan dua kali sehari, di saat pagi dan sore. Do’a itu adalah :

“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi walkasali wa a’udzubika minal jubni wal bukhli wa a’udzu bika min ghalabatiddain wa qahrirrijal.”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari rundungan sedih dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang“.

Secara redaksional do’a ini sangatlah pendek, namun kalau kita cermati do’a ini memiliki muatan yang sangat luas terlebih kalau dikaitkan dengan keseharian hidup. Bahkan rosul pun tidak pernah meninggalkan untuk mewiridkannya.

Mari kita cermati satu per satu maknanya :

1. Ya alloh, Aku berlindung dari sifat stress, gundah gulana, pikiran dan hati berkecamuk, dan kesedihan.

Sesungguhnya Islam mengajarkan agar kita tidak stress dan gundah gulana baik hati dan pikiran. Sebaliknya, kita harus memiliki hati dan pikiran terbuka. Betapa tidak, situasi stress akan menghambat aktivitas lainnya. Bukan hanya malas dalam beribadah namun juga malas dalam bekerja.

Sebagian orang berpendapat, penawar stress adalah pergi hiburan malam, menonton bioskop, makan terus, atau minum alkohol. Namun, jalan yang ditawarkan islam bukanlah itu, penawar stress adalah rajin membaca al-Quran, memperbanyak dzikir kepada Alloh, menjaga sholat malam, berkumpul dengan orang sholeh, dan rajin berpuasa.

2. Aku berlindung dari sifat lemah dan malas.

Saat seseorang telah terjangkit penyakit stress dan sedih, maka akan merembet kepada penyakit berikutnya yakni penyakit lemah dan malas. Lemah disini bisa bermakna lemah iman, lemah fisik maupun lemah ekonomi.

Secara alamiah, iman seseorang itu naik turun, kadang kuat dan kadang turun. Iman yang lemah akan mendorong seseorang melakukan maksiat. Lemah fisik sangatlah ditakuti rosul. Mana mungkin bisa beribadah secara teratur misal sholat malam dan membaca al-Quran, kalau kita terserang penyakit. Untuk itulah, kita disarankan meng-agenda-kan olahraga secara teratur. Rosul mencontohkan, sehabis shubuh ia berjogging sambil berdzikir.

Lemah harta pun dihindari dalam islam. Kenapa? karena banyak sekali syariat islam yang memerlukan modal harta / uang, misalnya sholat perlu baju, zakat perlu harta, dan bahkan ibadah haji pun perlu harta dan mental. Penyakit berikutnya adalah sifat malas. Maknanya bisa malas dalam bekerja, beribadah, silaturahmi, menuntut ilmu, dan aktivitas kebaikan lainnya.

3. Aku Berlindung dari Sifat Pengecut dan Bakhil.

Implikasi penyakit berikutnya ialah sifat pengecut dan bakhil. Orang pengecut adalah orang yang tidak gentle, manis dimuka musam di belakang. Ia suka berbohong, berkhianat, dan melanggar janji. Orang bakhil sangatlah berat menolong dan mengeluarkan shodaqoh. Ia tidak mengetahui bahwa harta yang sesungguhnya dinikmati bukanlah yang dimiliki, namun apa yang diberikan kepada Alloh. Pahala shodaqoh 1 berbanding 700 serta akan menolak bala.

4. Aku berlindung dari terlilit hutang dan pengaruh orang lain.

Dalam islam, berhutang diperbolehkan, asal jangan sering-sering, karena akan memberatkan di kemudian hari. Berhati-hatilah dengan utang, karena hutang satu jarum-pun akan diperhitungkan di akhirat kelak. Rosul pernah menunda sholat jenazah seorang sahabat karena sahabat itu masih punya hutang.

Terakhir, kita berlindung dari pengaruh orang lain yang membawa kepada jalan yang tidak lurus, baik dari keluarga, rekan kerja, atasan, lingkungan rumah, sekolah, kampus, dan lain sebagainya.

7 Ciri Mukmin Yang Beruntung

berdasarkan ( QS : Almu'minun 1:11 ), dapat disimpulkan bahwa mukmin yang beruntung memiliki tujuh sifat atau ciri yang harus kita miliki dalam hidup ini. Karenanya menjadi penting untuk kita pahami dengan sebaik-baiknya.
  1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
  2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
  3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
  4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
  5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
  6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki995; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
  7. Barangsiapa mencari yang di balik itu996 maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
  8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
  9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
  10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
  11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

1.Khusyuk dalam shalat, yaitu shalat yang disertai rasa takut kepada Allah SWT
dan ia yakin akan berjumpa dengan-Nya sehingga shalatnya dilaksanakan dengan
penuh konsentrasi dan akan membekas dalam kehidupan sesudah shalat.
Allah SWT berfirman, “ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya, ” (Al-Baqarah; 45-46).

2.Meninggalkan segala bentuk kesia-siaan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Hal ini karena keberadaan seorang Mukmin tentu saja harus memberi manfaat bagi manusia sehingga akan membuatnya menjadi manusia yang terbak di dunia maupun di akhirat. Rasulullah saw bersabda, “ Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, ” (HR Muslim).
Begitu pula bila memiliki ilmu, seorang mukmin akan memanfaatkan ilmunya
dengan baik agar ia tidak diazab. Rasulullah saw bersabda, “ Orang yang paling
keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak
memanfaatkannya, ” (HR Thabrani).

3.Menunaikan zakat sehingga hartanya bersih dari segala kemungkinan yang haram
dan hatinya juga bersih dari sifat-sifat yang tercela dalam kaitan dengan harta, seperti kikir, terlalu cinta harta dan sebagainya. Zakat, infak dan sedekah merupakan bentuk-bentuk mengeluarkan harta di jalan kebaikan sebagai ciri orang yang beriman, sehingga mereka pun mendapat jaminan surga dari Allah SWT. Firman Allah, “ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka, ” (QS at-Taubah: 111).

4.Menjaga kemaluan sehingga terhindar dari zina, yakni melakuakn hubungan su-is kepada orang yang bukan istri atau suaminya. Karena zina merupakan perbuatan tercela yang tidak mungkin dilakukan seorang mukmin sejati, karenanya hukuman untuk pezina sangat berat.

5.Memelihara amanah atau kepercayaan yang diberikan kepadanya. Mukmin
yang beruntung menyadari bahwa jika diberi kercayaan dalam berbagai bentuk itu merupakan sesuatau yang akan selalu dijaga dan dipelihara. Sebab, hal itu merupakan sesuatau yang dipahami pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT. Firman-Nya, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu
menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui, ” (QS al-Anfal: 27).
Karena begitu penting memelihara amanah sebagai salah satu kunci untuk mendapatkan keberuntungan, maka amanah itu tidak bisa dipisahkan dari iman sehingga bisa dipastikan ketiadaan iman bagi orang yang tidak mampu memelihara amanah, Rasulullah saw bersabda, “ Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji, ” (HR Ahmad).

6.Memenuhi janji, baik janji kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Ketika manusia berjanji kepada Allah, seorang Mukmin akan memenuhinya, yakni selalu beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan, ” (QS al-Fatihah: 5).
Begitu juga dengan janji kepada sesama manusia yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban. Allah SWT berfirman, “ Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) samapi ia dewasa dan penuhilah janji itu pasti diminta pertanggung jawabnya, ” (QS al- Isra: 34).

7.Memelihara shalat sehingga ia selalu menunaikan shalat dengan sebaik-baiknya yang telah diwajibkan kepadanya. Dari shalat yang ditunaikan dengan baik inilah, akan lahir dari dirinya kepribadian yang shalih yang selalu menunjukkan prinsip- prinsip shalat dalam kehidupan sesudah shalat, sehingga shalat tidak sekedar dikerjakan, tapi didirikan yang pengaruhnya bisa mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar. Allah SWT berfirman, “ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan, ” (QS al-Ankabut: 45).